Melangkah dalam kehidupan

Hujan di Bulan November


Bulan November biasanya selalu di awali dengan hujan deras. Tapi awal November ini terasa panas dan gerah. Langit kota Semarang memang sering kali mendung, tapi hujan belum juga turun. Setiap malam yang biasa terasa dingin di tahun-tahun yang lalu, kini terasa panas. Tuhan aku merindukan hujan di bulan November ini. Bulan yang selalu membuat aku tersenyum mengingat kenangan indah yang pernah aku lalui bersama-Mu.

Dimana bulan November selalu memberikan keceriaan tersendiri. Ketika masa adven dimulai di bulan ini. Merenungkan saat-saat Kau hadir pertama kalinya di bumi ini. Kabar sukacita yang selalu dinanti ada di tengah-tengah kami.

Saat hujan pertama di bulan November selalu ada kisah-kisah manis yang menanti. Di pagi hari ketika hujan berhenti, aku terbangun pukul 5 pagi. Ku melihat ke luar dari balik jendela. Melihat apakah cahaya matahari telah memperlihatkan dirinya pada dunia. Cahaya hangat mulai terasa, masuk melalui celah-celah ventilasi rumahku. Saat aku merasakan bahwa di luar sudah mulai terang. Aku mengambil gelas dari kaca dan tutup gelas. Lalu berlari keluar. Ternyata sudah banyak teman-temanku yang berada di depan rumahku.

Suara anak-anak kecil mulai ramai, mereka berlari-lari, sambil membawa gelas bahkan jaring kecil yang biasa digunakan untuk menangkap ikan. Pemandangan ini sering kali terjadi pada saat hujan pertama di bulan November.

“Hai Ta…., wah kamu kesiangan lihat gelasku sudah penuh” kata Novi teman sepermainanku.

“Wah…udah dapat banyak yach……” ujarku dengan sedikit kecewa kenapa tidak dari tadi aku keluar rumah.

“Iya tadi aku mau keluar tapi masih agak gelap, jadi nunggu terang dulu” tambahku

“Ayoo…cepetan cari, kalau keburu siang nanti ke sekolah bisa telat” kata Novi mengingatkanku.

“Iya..ya.., nih aku baru dapat lima” terangku

Pagi itu sehabis hujan pertama di bulan November, selalu saja muncul laron-laron kecil yang terbang keluar dari sarangnya. Aku dan teman-temanku tidak melewatkan kesempatan ini. Jika mereka muncul di saat hujan telah reda. Kami selalu mengatakan kemunculan laron-laron ini sebagai olahraga pagi. Biasanya aku selalu bangun siang, tapi dengan adanya laron aku selalu bangun pagi. Mengejar mereka yang berterbangan di udara, lalu menangkapnya.

Ada beberapa cara yang selalu dilakukan, ada teman yang menangkapnya dengan jaring. Sekali tangkap pasti langsung dapat banyak. Kalau aku selalu mengejar laron yang terbang rendah dan menepuk mereka hingga jatuh ke tanah. Setelah jatuh baru aku tangkap dan memasukannya ke gelas.

Karena aku sudah kesiangan dan tidak banyak laron yang beterbangan. Selalu saja ada akal bagaimana agar gelasku penuh dengan laron. Oiya aku ingat di rumah Pak RW selalu ada sarangnya. Tanpa berpikir panjang aku berlari menuju rumah Pak RW. Benar saja, di sana ada sarangnya. Aku pun tidak perlu berlari-lari lagi untuk mengejarnya.

Aku duduk di tanah, di dekat sarang laron. Hanya dalam waktu 10 menit gelasku sudah penuh. Duch senang sekali. Akhirnya gelasku penuh juga. Tidak kalah dengan punya Novi. Aku berlari dengan senang dan gembira, terus memperlihatkan gelasku ke teman-temanku.

Mereka bertanya, “Ta…, dapat banyak juga ya!”

“Iya donk….., nih penuh khan!!”

“Dapat di mana, cepat banget bisa penuh”

“Di rumah Pak RW, banyak sarangnya”

“Benaran Ta…,yukk kita ke sana”

Beberapa teman kecilku berlomba berlari menuju rumah Pak RW yang di penuhi sarang-sarang laron. Sedangkan aku berlari pulang ke rumah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Aku harus cepat mandi dan berangkat ke sekolah.

Laron yang aku dapat, aku berikan ke ibu untuk di masak. Biasanya kami memasaknya dengan di goreng memakai telur dan di beri garam sedikit. Dulu aku merasa jijik dengan binatang kecil itu. Tapi setelah mencicipinya hmmm rasanya enak juga, gurih dan renyah.

Kata ayahku, di dalam tubuh laron memiliki sumber protein yang tinggi. Dan tentu saja aman di konsumsi oleh manusia.

Di kota Boyolali, laron sudah biasa dijual sebagai lauk pauk. Biasanya di buat peyek laron. Sekarang sudah jarang sekali yang menjualnya. Padahal rasa peyek laron ini lezat sekali. Mungkin karena laron juga susah untuk di dapatkan.

Pagi itu hujan pertama di bulan November, kami sekeluarga sarapan dengan menu Laron goreng. Lezat dan enak sekali, menikmati makanan yang disediakan oleh alam.

Hujan yang terjadi sekarang ini, sudah berbeda dengan hujan di saat-saat aku kecil. Hujan yang dulu sering kali mendatangkan laron-laron kecil. Hujan yang sekarang ini mendatangkan banjir. Laron pun sudah jarang aku jumpai di saat-saat musim penghujan. Mungkin karena sekarang sudah banyak rumah-rumah yang terbuat dari beton. Jalanan sudah banyak di aspal. Dan sudah jarang ada lapangan di kota-kota. Bahkan pohon-pohon sebagai sumber oksigen pun sudah jarang sekali di tanam di tengah-tengah jalan. Adanya mereka di tebang untuk pelebaran jalan.

Pohon-pohon yang ada di hutan ditebang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Banyak perbukitan di keruk, untuk perumahan. Banyak gunung di gundulin, untuk dijadikan perkebunan teh, kopi. Di perkotaan banyak di bangun gedung-gedung bertingkat, yang mengurangi daya serap air. Sungguh ironis. Manusia mengeksploitasi alam dengan tidak bertanggung jawab. Dan sekarang akibatnya hujan beberapa jam saja sudah mengakibatkan banjir. Seringkali juga terjadi banjir bandang disertai tanah longsor di pedesaan. Bencana ada di mana-mana. Dan yang sering dibicarakan sekarang ini adalah global warming.

Cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini, juga mencerminkan kondisi negara yang saat ini sedang memanas. Dimana ada konflik diantara lembaga kenegaraan. Seolah-olah para petinggi negara membenarkan argumennya masing-masing. Tidak ada yang mau berusaha untuk saling mendengarkan satu sama lain. Semua saling menuntut, semua saling menuding dan semua saling mengklaim bahwa merekalah yang paling benar. Tidakkah mereka menyadari, dunia ini sedang di uji oleh Yang Maha Esa. Apakah mereka tidak melihat tanda-tanda itu.

Keinginan untuk tetap berkuasa dan menjabat di posisi yang paling tinggi. Seringkali membutakan seseorang, untuk tetap berada di tempat itu. Dengan segala cara di lakukan untuk mempertahankannya. Bahkan tanpa ragu-ragu membuat sebuah skenario untuk menjatuhkan yang lain. Dengan tipu muslihat yang sama sekali tidak pernah di sangka-sangka. Dan membuat orang yang benar harus menanggung rasa malu, rasa sakit dan harus dikucilkan oleh keluarga, teman bahkan masyakarat. Pada akhirnya kebenaran akan terungkap.

Hujan di bulan November, berikan kesejukan buat kami. Juga buat orang-orang yang menjabat di posisi tertinggi. Untuk bisa menyelesaikan kasus-kasus yang ada dengan bijaksana. Dengan arif mau untuk mengakui kesalahan masing-masing.

Indahnya dunia jika semua orang mau untuk berdamai. Seperti damai Natal yang selalu hadir di setiap hati manusia. Tuhan sukacita-Mu selalu hadir untuk kami. Berikan kami kasih dan berkat-Mu untuk dapat kembali berdamai dengan orang-orang yang kami kasihi.

Semarang, 13 November 2009

Ternyata Aku Fobia Juga


Sore ini ketika saya membeli rokok untuk ayah di warung dekat rumah, pemilik warung sebut saja namanya Ibu Sirun bercerita kalau cucunya yang bernama Reza yang berusia 7 tahun itu sangat takut dengan yang namanya Kuda Lumping. Dan beberapa hari yang lalu ada pengamen kuda lumping sekitar 2 orang yang datang ke area pemukiman kami. Waktu itu Reza sedang asyik main sepeda di jalan, ketika melihat pengamen kuda lumping ini dari kejauhan, Reza sangat kaget dan dia langsung saja meninggalkankan sepedanya di jalanan dan sandalnya di buang begitu saja, dia berlari ke arah warung tempat Ibu Sirun berjualan. Sambil berteriak-teriak “Nenek….nenek…takut nek! Cepat itu….orangnya di kasih uang biar cepat pergi” Reza begitu histerisnya melihat pengamen itu. Neneknya yang sedang duduk sambil menimbang telur-telur untuk dijual keheranan dengan tingkah Reza ini. “Kenapa mas Reza, kamu takut apa” tanya sang nenek yang belum mengerti mengapa Reza tiba-tiba saja ketakutan. “Itu nek, ada kuda lumping, Reza takut…., cepat di kasih uang biar cepat pergi” teriak Reza lagi sambil menarik-narik baju sang nenek. “Kuda Lumpingnya masih jauh, belum ke sini mas” jelas Ibu Sirun sambil menenangkan Reza. “Tidak usah takut, cuma kuda lumping saja mas” kata neneknya lagi. “Ayoo…nek, jangan sampai masuk ke sini, cepatan di kasih uang…” rengek Reza lagi yang badannya sudah gemetaran dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Neneknya yang melihat Reza benar-benar ketakutan jadi kasihan, lalu beliau keluar ke depan warung sambil membawa uang kecil untuk pengamen kuda lumping itu.

Bu Sirun tidak mengerti kalau Reza menderita fobia terhadap kuda lumping. Beliau menceritakan pada saya dengan terheran-heran melihat kondisi Reza yang benar-benar ketakutan terhadap kuda lumping ini. Saya sendiri ketika mendengarnya tidak heran kalau Reza mempunyai ketakutan seperti itu, dan sambil tersenyum-senyum saya juga menjelaskan ke Ibu Sirun, bahwa saya juga mempunyai ketakutan yang sama seperti yang Reza alami.

“Saya juga takut dengan kuda lumping Bu” kataku sambil tersenyum malu

“Ooo mbak Tata juga takut sama kuda lumping ya” bu Sirun tambah heran mendengar pengakuan saya

“Iya kemarin waktu ada kuda lumping itu, saya lagi mau menyapu halaman depan, terus waktu mendengar suara pengamen itu saya langsung lari masuk rumah. Syukurnya ada Ian jadi dia yang kasih uang buat pengamen itu” terangku yang waktu itu juga ketakutan. “Lho mas, tantenya juga sama takut dengan kuda lumping” kata Ibu Sirun kepada Mas Reza.

“Tuh kan bukan cuma Reza aja yang takut” kata Reza sambil tersenyum manis, dia merasa senang karena ada teman yang sama-sama takut dengan kuda lumping.

Saya sendiri baru menyadari kalau memiliki ketakutan atau fobia jika bertemu dengan yang namanya kuda lumping dan reog Ponorogo. Mungkin karena saya sudah jarang melihat kesenian tradisional ini jadi tidak begitu menyadari kalau saya memiliki ketakutan terhadap hal tersebut. Saat beberapa hari yang lalu melihat pengamen kuda lumping itu lewat, kaki ini langsung lemas, keringat dingin keluar begitu saja dari badan, dan saya langsung gemetaran. Bahkan untuk melihat mereka saja tidak berani. Saya sendiri merasa heran kok bisa yach sampai takut dengan yang namanya kuda lumping. Oohhh saya baru ingat waktu masih kecil, kesenian kuda lumping ini sering kali melakukan pertunjukan di sekitar pemukiman tempat saya tinggal. Bahkan hampir sebulan sekali selalu ada pertunjukan kuda lumping, dan setiap kali ada pertunjukan itu saya suka sekali menonton, namun tidak berani dari dekat. Suara pecut dan gendangnya membuat saya merinding dan bulu kaki bergidik. Di saat pertunjukan yang paling menarik di pertontonkan yaitu saat para pemain memakan beling (pecahan kaca) dan memasukan api di dalam mulutnya kemudian menyemburkannya kembali, saya selalu ngeri melihatnya. Ketika pertunjukan selesai pemain yang memakai topeng akan berkeliling di sekitar penonton dan membawa kaleng untuk menarik uang, saya selalu menitipkan uang ke adik kalau tidak ke teman untuk dimasukan ke kaleng yang diedarkan. Dan saya tidak mau pemain kuda lumping itu datang mendekat, saya selalu pulang duluan sebelum pertunjukan itu selesai..

Kejadian itu terjadi di saat saya masih duduk di bangku SD, dan setiap kali pulang sekolah jika saya menjumpai ada pertunjukan kuda lumping di jalanan, maka saya lebih memilih untuk jalan memutar daripada harus bertemu dengan mereka. Mungkin inilah awalnya saya menjadi takut dengan yang namanya kuda lumping dan apa saja yang memakai topeng yang mengerikan itu. Saya juga ingat saat masih kerja di Jakarta, waktu itu sedang menunggu bis trans BSD di Harmoni, dan tanpa sengaja ada serombongan orang-orang yang berpakaian adat Bali membawa arak-arakan ogoh-ogoh, ternyata itu untuk merayakan datangnya hari raya Nyepi. Saya yang melihat arak-arakan ogoh-ogoh itu jadi merinding, dan kaki ini lemas sekali. Sama sekali saya tidak memiliki keberanian untuk melihat dan mendekati rombongan itu, sementara teman saya dengan asyiknya mengabadikan moment tersebut. Yang lebih lucunya ada seorang ibu yang biasa jualan minuman di dekat situ, lari ketakutan dan masuk ke salah satu rumah untuk menghindari arak-arakan tersebut. Saya hanya bisa tertawa saja melihat ibu itu ketakutan setengah mati, ternyata ada yang lebih parah fobia-nya dibandingkan dengan saya. Kalau saya yang penting jangan sampai mendekat saja maka saya tidak akan terlalu takut, mungkin kalau mereka mendekati saya bisa mati kaku kali ya hahaha…..

Saya bersyukur karena tidak setiap hari harus berhadapan dengan kuda lumping itu, jadi ketakutan ini tidak terlalu menghantui dan menjadi beban buat saya. Bayangkan saja jika saya fobia dengan binatang seperti cicak, kodok, ayam, kecoa atau fobia dengan buah seperti pisang dan yang lain. Bisa-bisa hal itu justru akan menganggu aktifitas saya setiap hari.

Menyadari bahwa saya memiliki fobia seperti ini membuat saya tertarik untuk mengetahui apa sih sebenarnya fobia ini. Kenapa seseorang bisa memiliki ketakutan terhadap hal-hal yang seharusnya tidak perlu di takuti. Dan saya takut terhadap kesenian kuda lumping yang seharusnya tidak perlu untuk ditakutin. Ada juga seorang teman yang takut dengan binatang cicak, sedangkan saya tidak takut terhadap binatang ini, jika di rumah tidak ada cicak malahan saya selalu mencari-carinya.

Saya mencoba-coba mencari di internet dan menemukan blog yang membahas tentang fobia ( www.hipnoterapi.asia) , di sini di bahas tentang penyebab fobia dan bagaimana bisa sembuh dari fobia dengan metode hipnoterapi. Pengertian fobia sendiri adalah rasa takut yang berlebihan dan tidak wajar terhadap sesuatu obyek benda, situasi tertentu, yang di tandai dengan keinginan untuk menghindari sesuatu yang ditakuti itu (saya kutip dari blog). Hmm benar juga yah kalau orang-orang yang menderita fobia selalu menghindari sesuatu yang ditakuti, sama halnya dengan saya daripada saya ketakutan bertemu dengan kuda lumping saya selalu menghindari mereka. Lalu mengenai penyebab fobia sendiri itu apa yach? Di blog www.hipnoterapi.asia di jelaskan bahwa penyebab fobia ada 4 yaitu karena peristiwa traumatis, budaya dan keyakinan, pola asuh yang keliru dan permodelan dan pengkodisian, untuk lebih jelasnya bisa mengunjungi blog tersebut. Untuk saya sendiri penyebabnya adalah peristiwa traumatis, dimana fobia ini terjadi saat saya masih kecil, dimana pada masa kecil pikiran logis kita belum berkembang baik. Sehingga banyak kejadian yang di tanggapi secara emosional, sampai menimbulkan trauma. Saya kembali berpikir memang benar juga yach, yang membuat saya trauma terhadap kuda lumping adalah suara pecut yang mengelegar dan pernah ada kejadian salah seorang pemain kuda lumping ini membawa pecut dan membunyikannya di dekat saya dan membuat saya sangat terkejut dan takut sekali. Dan semenjak itu saya tidak berani yang namanya dekat dengan kuda lumping.

Mengetahui asal mulanya yang menyebabkan saya memiliki ketakutan ini membuat saya lega. Karena untuk dapat menyembuhkan fobia ini kita harus mengetahui penyebabnya. Fobia yang saya alami ini tidak terlalu parah karena saya jarang bersinggungan dengan hal-hal yang saya takuti. Dan saya percaya saya bisa sembuh dari ketakutan ini. Seringkali saya melihat di acara yang di tayangkan di salah satu tv swasta, para artis yang memiliki fobia malah di kerjain habis-habisan oleh para kru. Kasihan juga saat mereka dikerjain sampai nangis dan pingsan. Jika kita mengetahui kita memiliki fobia dan sangat menganggu aktifitas kita memang lebih baik kita mengikuti terapi untuk bisa sembuh dari ketakutan yang kita miliki. Pada akhirnya kita akan merasa lega ketika kita tidak memiliki ketakutan lagi terhadap hal-hal yang seharusnya tidak perlu kita takuti. Semoga saya juga tidak lagi memiliki ketakutan itu lagi, karena saya yang waktu kecil juga takut dengan ketinggian sekarang sudah bisa mengatasi rasa takut itu. Dan semua tergantung dari diri kita sendiri mau atau tidak kita mengatasi rasa takut itu.

Semarang, 4 Oktober 2009

Oleh : Ratna Fri

Apakah Kamu Masih Patah Hati ?


Beberapa hari ini banyak sekali status teman-temanku di fb yang lagi patah hati, yang pasti melow dan penuh dengan luapan kemarahan. Sayapun 1 bulan yang lalu mengalaminya, dan merasakan bahwa dunia ini berhenti karena dia sudah tidak bersamaku lagi. Yang membuat saya merasa sangat sedih adalah karena saya tidak bisa mempertahankan hubungan ini dikarenakan sebuah perbedaan, mungkin jika permasalahannya ada orang ketiga di dirinya itu akan membuat saya mudah melupakannya.

 

Sudah hampir 1 bulan lebih bayang-bayang dia tak mampu untuk saya hapus dari pikiran dan hati saya. Pedih sakit dan kecewa pasti ada, dan rasa itu semakin bercampur aduk yang membuat saya mengasihi diri sendiri dan semakin sedih. Lalu saya bertanya-tanya kenapa saya bisa sesedih ini? Kenapa saya tidak bersemangat seperti dulu? Bukannya saya seorang wanita yang tegar, mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain. Banyak hal yang bisa dilakukan daripada mengasihani diri dan larut di dalam kesedihan. Saya ingat pada suatu ungkapan bahwa dunia tidak akan berhenti hanya karena kesedihan saya, dunia terus berjalan dari hari demi hari, jika saya terlalu larut di dalam kesedihan maka saya akan menyia-nyiakan hidup saya.

 

Saya mulai memfokuskan hidup saya lagi, apa yang harus saya lakukan?? Kembali saya membuka nomor-nomor di handphone, saya kembali mulai menghubungi teman-teman yang sudah lama tidak berkomunikasi dengan saya. Dan mulailah saya bercerita kepada teman-teman tentang banyak hal dan banyak sekali yang mendukung saya untuk kembali bangkit dan tidak larut di dalam kesedihan. Selain itu saya kembali mulai aktif dengan kegiatan pelayanan. Beberapa bulan yang lalu saya aktif di sekolah minggu dan koor wilayah, dikarenakan jadwal yang padat saya menetapkan untuk lebih aktif di sekolah minggu Gereja, karena hati sayapun ada di sana.

 

Ada satu hobby yang sangat yang senangi dan membantu saya untuk bisa tidak larut di dalam kesedihan saya, yaitu menulis. Dengan menulis saya mencoba mengutarakan perasaan saya, isi hati saya dan banyak hal yang tidak di ketahuinya tentang diri saya, mulai saya buka lewat tulisan-tulisan saya. Bahkan sekarang ini saya membuat jurnal harian di sebuah buku, kegiatan apa saja yang saya lakukan, dengan begitu kegiatan on line saya jadi berkurang. On line di internet membuat saya sulit untuk melupakan sosoknya, dan dengan menulis saya sedikit mengurangi kegiatan on line ini. Sehingga saya tidak lagi fokus lagi pada dirinya, karena banyak hal yang masih bisa kita lakukan untuk dapat mengobati hati kita yang sedang bersedih.

 

Saya merasakan kesedihan itu berasal dari diri saya sendiri, bukan dari orang lain ataupun dari dia. Semua karena saya yang sedang sedih ini, menginginkannya untuk tetap berada bersama dengan saya. Tapi kenyataan yang terjadi sama sekali tidak seperti yang saya harapkan, dan saya semakin bersedih. Mungkin hal ini bisa juga di karenakan usia saya yang seharusnya sudah bisa menjalin hubungan yang lebih serius. Dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk hal itu. Semakin dipikirkan hati ini semakin hancur dan sangat terluka, tapi itu semua juga sia-sia karena dengan begitu akan membuat hidup saya lebih hancur lagi. Ada saatnya untuk kembali bangkit, dan itu semua tergantung diri kita sendiri, apakah kita mau larut di dalam kesedihan atau tetap berusaha menjalani hari-hari tanpa kehadirannya.

Saya sendiri tidak menyangka bisa lepas dari semua ini, keasyikan saya dalam menulis membuat saya sedikit demi sedikit melupakan luka itu. Dan yang pasti itu semua juga karena Tuhan Yesus yang selalu memberikan dukungan buat saya untuk tidak menyalahkan siapapun dalam persoalan yang tengah saya hadapi. Tapi Dia membuatku menyadari bahwa saya telah berani melibatkan diri di dalam sebuah hubungan, apapun yang terjadi di dalam hubungan itu saya harus berani dan siap untuk menanggung segala resiko yang ada. Saya bersyukur karena bisa mengenal dan berjumpa dengan dirinya, dan sayapun diijinkan untuk menjalin hubungan dengannya. Sampai hari inipun saya tidak bisa membenci dan menyalahkan dia atas semua yang telah terjadi, semua ini terjadi karena saya yang belum bisa bersikap dewasa di dalam menjalani sebuah hubungan. Saya mulai belajar dan memahami apa yang tengah terjadi, dan bagi saya ini masih menjadi sebuah misteri. Walaupun hubungan ini telah berakhir aku masih berharap untuk bisa dekat dengan dirinya, dan hanya Tuhan yang mengetahui apa yang akan terjadi nanti antara saya dan dirinya.

 

Buat teman-teman yang saat ini sedang mengalami putus cinta, jangan kuatir Tuhan pasti akan memberikan kepada kita saat yang tepat itu. Hanya dibutuhkan kesabaran di dalam penantian dan ingatlah bahwa sabar itu tidak akan menyakitimu, dia hanya membutuhkan waktu untuk dapat melihat sejenak, dan kau akan terkejut dengan apa yang menantimu di depan jika kau mau menunggu dengan sabar. Ini yang selalu saya ingat, dan untuk saat ini, hari ini lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kita. Dengan begitu setiap masalah dan apa yang terjadi di hari ini dapat kita hadapi dengan tersenyum. Jadi harus tetap semangat yach, jika rasa sedih itu menghampirimu berpikirlah satu menit dan itu akan menyelamatkanmu dari kesakitan.

 

Notes : sabar itu tidak akan menyakitimu ( saya kutip dari tulisan Fehmikirana, saya sangat suka dengan tulisan ini, yang mengajarkan saya benar-benar untuk bersabar di dalam setiap hal. Ada satu kalimat dalam tulisan ini yang benar-benar membuat saya tersadar dan kembali untuk bangkit lagi, “ Kemampuan untuk menunggu tanpa rasa frustasi berlebihan dan rasa marah adalah karakter yang sangat berharga” )

Dan semoga saya dapat meneladani karakter yang sangat berharga ini.

 

 

Semarang, 30 Oktober 2009

By : Ratna Fri

JOGJA LIBRARY CENTER


Beberapa waktu yang lalu ketika saya pergi ke sebuah toko buku, saya melihat ada buku yang menarik dan membacanya sebentar, ketika saya membolak balik halaman demi halaman buku itu ada sebuah ungkapan yang sampai saat ini selalu saya ingat “dengan mengajar saya belajar dan dengan membaca saya berpikir”
Ungkapan ini benar-benar saya ingat di dalam hati dan pikiran saya, dan memang benar adanya dengan mengajar saya pun turut belajar dan dengan membaca saya diajak untuk berpikir.

Kemarin malam saya masih berada di Yogya, saya berkunjung ke kota itu bukan untuk jalan-jalan dan shopping, ada beberapa hal yang harus dikejakan di kampus tempat saya belajar dulu, sekalian saya juga berkunjung ke rumah kakak sepupu saya. Setelah urusan saya di kampus selesai, keesokan harinya saya sempatkan untuk berjalan-jalan di Malioboro. Tidak sengaja saya melihat sebuah bangunan dan di depannya ada tulisan “Library of Yogya”. Aha…. sebuah perpustakaan ada di Jalan Malioboro yang letaknya persis di depan Hotel Garuda. Karena penasaran saya lalu berniat untuk memasukinya. Saat memasuki ruang perpustakaan itu ada suasana nyaman dan pelayanan yang ramah. Saya bertanya ke salah satu petugas perpustakaan itu, koleksi apa yang di miliki oleh perpustakaan ini. Petugas itu menjelaskan bahwa perpustakaan ini memiliki koleksi majalah, tabloit, koran-koran lama, novel, buku-buku sejarah tentang peradaban Indonesia, dan buku-buku gallery.

Saya tertarik untuk membaca majalah, buku-buku galerry yang menjadi salah satu koleksi di sana. Iseng-iseng saya melihat di sekeliling perpustakaan itu, ada kumpulan tabloit lama, dan koran-koran lama yang tersusun dengan rapi. Lalu saya melihat dari tahun berapa saja, oohhh ternyata dari tahun 1930 juga ada, tapi kondisinya sudah tidak terawat lagi, usang dan berdebu. Sedangkan yang masih tersusun rapi dari tahun 1970, semua di susun berdasarkan tahun dan nama harian, setiap koran harian di buat kliping per-dua bulan.

Selain koleksi buku-bukunya, yang menjadi perhatian saya adalah ruangan perpustakaan itu yang bersih dan rapi, tempat membacanya terbuat dari lantai kayu, di dalam ruangan ada AC yang membuat para pengunjung sangat betah untuk berlama-lama di sana. Belum lagi para pegawai perpustakaan yang ramah-ramah, dan ketika saya ingin mencari sebuah buku salah satu pegawainya membantu saya untuk mencari dan mengambilkannya untuk saya. Sungguh berbeda pelayanan yang saya dapat dari perpustakaan daerah tempat saya tinggal. Suasana yang nyaman benar-benar terasa bahkan ketika saya minta ijin untuk mengambil gambar beberapa buku koleksi, dan alat cetak kuno pun di persilakan.

Hanya sayang sekali perpustakaan yang menyimpan begitu banyak buku-buku sejarah dan koleksi buku-buku gallery ini sepi pengunjung. Saat saya ada di situ pengunjung yang datang sekitar 5 orang, suasananya jadi sepi dan sangat nyaman untuk membaca. Mungkin hal ini dikarenakan tidak banyak yang tertarik pada sejarah dan buku-buku yang ada di situ, selain itu tidak ada tempat parkir untuk pengunjung. Jika ingin pergi ke “Library of Yogya” ini para pengunjung biasanya memarkirkan mobil atau motornya di depan Hotel Garuda. Padahal fasilitas yang di sediakan cukup baik, selain itu ada hot spot pula, namun sayangnya hot spots ini juga tidak di kelola dengan baik dan seringkali down saat di pakai untuk koneksi ke internet. Jika pengelolaannya sangat baik saya yakin pasti akan banyak lagi yang akan datang.

Belum lagi fasilitas untuk meminjam buku, yang saat ini sudah tidak ada lagi. Padahal yang dicari oleh mahasiswa, pegawai maupun masyarakat umum lainnya, adalah fasilitas untuk meminjam buku. Hal ini dikarenakan waktu yang biasanya tidak cukup untuk membaca di perpustakaan. Jika bisa meminjam buku di sana saya juga yakin pasti akan banyak lagi yang berkunjung. Selain itu mungkin juga perlu menambah koleksi buku-buku terbaru, karena membaca koleksi lama biasanya hanya di lakukan oleh orang-orang yang ingin mengetahui sejarah dan ada kepentingannya tertentu saja.

Hari itu hari Jumat, waktu yang sangat pendek untuk berkunjung ke perpustakaan, dan biasanya perpustakaan akan tutup lebih awal. Setelah saya selesai membaca, saya minta ijin untuk keliling ruangan perpustakaan itu untuk mengambil beberapa gambar. Saya asyik berkeliling dan menjepret beberapa koleksi buku yang di panjang di ruang kaca tertutup. Karena keasyikan melihat koleksi-koleksi yang ada di situ, tanpa terasa waktu sudah hampir jam 12 siang, ketika saya mau keluar, saya baru sadar bahwa hanya tinggal saya sendiri di ruangan itu, semua lampu sudah di matikan. Waduh, saya jadi takut saya kira saya di kunci dari luar, tidak tahunya masih ada penjaga di luar yang membukakan pintu untuk saya. Sebenarnya saya masih belum puas berada di sana, tapi karena sudah tutup saya pun harus menyudahi kegiatan membaca saya.

Mengunjungi perpustakaan menjadi kegiatan yang mengasyikan jika koleksi di perpustakaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan para pembacanya, dan saya juga menyadari minat baca masyakarat Indonesia ini kuat hanya saja daya belinya yang tidak memadai. Bagi saya sendiri pergi ke toko buku juga sangat menyenangkan tapi ketika melihat harga buku-buku yang mahal terkadang juga harus berpikir terlebih dahulu untuk membelinya. Banyak teman-teman saya yang suka membaca lebih senang pergi ke shopping (pasar buku di Yogya), pasar senin (Jakarta), atau pasar Johar (Semarang) tempat di mana buku-buku dijual murah, tapi jika tidak pintar memilih malah bisa mendapatkan buku dengan cetakan yang tidak bagus. Dan ada kalanya buku-buku yang dijual di sana adalah buku-buku bajakan. Saya sendiri enggan untuk membeli buku di sana kecuali ingin membeli majalah atau buku-buku lama.

Saya memiliki suatu harapan ada sebuah perpustakaan yang rapi, bersih, nyaman, dengan pelayanan yang ramah dan menyediakan buku-buku yang terbaru sehingga mereka yang tidak mampu untuk membeli bisa meminjam di perpustakaan itu. Tentu saja hal ini akan sulit diwujudkan oleh pemerintah daerah, tapi jika ada seorang yang dermawan bisa menyediakan perpustakaan seperti ini alangkah senangnya. Pasti minat baca di kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya akan lebih meningkat lagi, dan dapat menghasilkan karya-karya yang indah dan bagus.

Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang lebih 10 menit, perut sudah keroncongan dan saya harus mencari makanan. Saya langkahkan kakiku menyusuri jalan Malioboro, kira-kira makanan apa ya yang enak. Hmmm saya ingat waktu saya kuliah dulu sekitar 10 tahun yang lalu, saya suka sekali makan Soto Daging di dekat Kanisius, rasanya sedap dan tempe gorengnya renyah sekali. Tapi mengingat lokasinya yang jauh dari Malioboro saya harus mencari makanan kecil dulu, setidaknya buat menganjal perut sambil menunggu saat makan di Soto Daging.

Asyik sekali menyusuri Jalan Malioboro banyak para pedagang yang berjualan di situ, tapi aneh saya sama sekali tidak tertarik untuk shopping. Dalam hati kira-kira apa yach yang sedang saya butuhkan, ooohhh iya saya membutuhkan dompet baru. Sambil berjalan saya lihat kanan kiri saya kira-kira ada yang jual dompet yang saya inginkan tidak ya….
Saya melihat ada pedagang yang menjual dompet, saya melihat-lihat dompet tersebut, saya ambil sebuah dompet berwarna coklat terus saya berkata ke penjualnya “ Ada yang lain tidak Pak”
“Tidak ada mbak, ya cuma ini saja yang ada” jawab pedagang itu
“Ahh tidak ini terlalu tipis” saya kembalikan dompet itu dan terus berjalan
Saya temukan lagi pedagang dompet yang lain, nah ini dia dompet yang saya cari-cari. Lalu saya bertanya ke pedagang itu “ Berapa ini Pak?”
“Enam puluh lima ribu mbak” balasnya
“Wah kok larang tenan (mahal sekali) Pak ?” jawabku
“Lha terus berapa nawarnya mbak ?”
“Lima belas ribu boleh gak?”
“Dereng pareng mbak (belum boleh mbak), sampun pasipun 35 ribu ngihh (sudah pasnya 35 ribu ya) ?” bapak itu akhirnya mau menurunkan harganya
“Mboten Pak, menawi angsal 20 ribu nggih (Tidak mau Pak, kalau boleh 20 ribu ya) ? Saya masih ngotot juga buat nawar
“Ditambahi sitik ya mbak, sampun 25 ribu mawon (Ditambahi sedikit ya mbak, sudah 25 ribu saja)” aha si Bapak akhirnya mau juga menurunkannya lagi
“Nggih Pak, meniko arto nipun (Iya Pak, ini uangnya) ? Sayapun menyetujui harga yang di tawarkan pedagang itu, yah lumayanlah memang tadi kebanyakan kasih harga 65 ribu, dan turun-turunnya jadi 30 ribu, saya bisa dapat harga 25 ribu jelas sebuah kemenangan hehehe…..

Dan ini seninya belanja di Malioboro harus pandai-pandai dalam menawar kalau tidak ya bisa kemahalan dalam membeli barang.
Dompet sudah dapat tidak ada lagi yang di cari, sekarang tinggal beristirahat mencari tempat yang enak buat istirahat dulu, dan saya menemukan sebuah tempat nyaman dan dingin, saya masuk ke sana memesan sepotong donat dan segelas orange juice sambil menikmati lagu dari MLTR lagunya 25 minutes to late yang mengingatkan saya pada saat-saat masih kuliah dulu.

Dengan membaca saya di ajak berpikir dan dengan berpikir saya diajak untuk menuliskan apa yang sedang saya pikirkan, apa yang sedang saya rasakan dan apa yang sedang saya alami. Yang mungkin tulisan ini bisa membagi pengalaman dan pengetahuan tentang apa yang tengah saya alami. Menuliskan hal-hal yang kita alami dan pahami ternyata lebih mudah di bandingkan menulis tentang sesuatu yang sama sekali tidak kita mengerti. Dan saya tidak akan pernah berhenti untuk menulis, apapun itu bentuknya karena saya percaya dengan menulis juga akan membantu kreatifitas saya dalam melakukan berbagai hal yang tengah saya kerjakan saat ini. Sekarang saya sedang belajar untuk mengajar, karena dengan mengajar sayapun diajak untuk belajar.

Semarang, 31 Oktober 2009

By Ratna Fri