Bulan November biasanya selalu di awali dengan hujan deras. Tapi awal November ini terasa panas dan gerah. Langit kota Semarang memang sering kali mendung, tapi hujan belum juga turun. Setiap malam yang biasa terasa dingin di tahun-tahun yang lalu, kini terasa panas. Tuhan aku merindukan hujan di bulan November ini. Bulan yang selalu membuat aku tersenyum mengingat kenangan indah yang pernah aku lalui bersama-Mu.
Dimana bulan November selalu memberikan keceriaan tersendiri. Ketika masa adven dimulai di bulan ini. Merenungkan saat-saat Kau hadir pertama kalinya di bumi ini. Kabar sukacita yang selalu dinanti ada di tengah-tengah kami.
Saat hujan pertama di bulan November selalu ada kisah-kisah manis yang menanti. Di pagi hari ketika hujan berhenti, aku terbangun pukul 5 pagi. Ku melihat ke luar dari balik jendela. Melihat apakah cahaya matahari telah memperlihatkan dirinya pada dunia. Cahaya hangat mulai terasa, masuk melalui celah-celah ventilasi rumahku. Saat aku merasakan bahwa di luar sudah mulai terang. Aku mengambil gelas dari kaca dan tutup gelas. Lalu berlari keluar. Ternyata sudah banyak teman-temanku yang berada di depan rumahku.
Suara anak-anak kecil mulai ramai, mereka berlari-lari, sambil membawa gelas bahkan jaring kecil yang biasa digunakan untuk menangkap ikan. Pemandangan ini sering kali terjadi pada saat hujan pertama di bulan November.
“Hai Ta…., wah kamu kesiangan lihat gelasku sudah penuh” kata Novi teman sepermainanku.
“Wah…udah dapat banyak yach……” ujarku dengan sedikit kecewa kenapa tidak dari tadi aku keluar rumah.
“Iya tadi aku mau keluar tapi masih agak gelap, jadi nunggu terang dulu” tambahku
“Ayoo…cepetan cari, kalau keburu siang nanti ke sekolah bisa telat” kata Novi mengingatkanku.
“Iya..ya.., nih aku baru dapat lima” terangku
Pagi itu sehabis hujan pertama di bulan November, selalu saja muncul laron-laron kecil yang terbang keluar dari sarangnya. Aku dan teman-temanku tidak melewatkan kesempatan ini. Jika mereka muncul di saat hujan telah reda. Kami selalu mengatakan kemunculan laron-laron ini sebagai olahraga pagi. Biasanya aku selalu bangun siang, tapi dengan adanya laron aku selalu bangun pagi. Mengejar mereka yang berterbangan di udara, lalu menangkapnya.
Ada beberapa cara yang selalu dilakukan, ada teman yang menangkapnya dengan jaring. Sekali tangkap pasti langsung dapat banyak. Kalau aku selalu mengejar laron yang terbang rendah dan menepuk mereka hingga jatuh ke tanah. Setelah jatuh baru aku tangkap dan memasukannya ke gelas.
Karena aku sudah kesiangan dan tidak banyak laron yang beterbangan. Selalu saja ada akal bagaimana agar gelasku penuh dengan laron. Oiya aku ingat di rumah Pak RW selalu ada sarangnya. Tanpa berpikir panjang aku berlari menuju rumah Pak RW. Benar saja, di sana ada sarangnya. Aku pun tidak perlu berlari-lari lagi untuk mengejarnya.
Aku duduk di tanah, di dekat sarang laron. Hanya dalam waktu 10 menit gelasku sudah penuh. Duch senang sekali. Akhirnya gelasku penuh juga. Tidak kalah dengan punya Novi. Aku berlari dengan senang dan gembira, terus memperlihatkan gelasku ke teman-temanku.
Mereka bertanya, “Ta…, dapat banyak juga ya!”
“Iya donk….., nih penuh khan!!”
“Dapat di mana, cepat banget bisa penuh”
“Di rumah Pak RW, banyak sarangnya”
“Benaran Ta…,yukk kita ke sana”
Beberapa teman kecilku berlomba berlari menuju rumah Pak RW yang di penuhi sarang-sarang laron. Sedangkan aku berlari pulang ke rumah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Aku harus cepat mandi dan berangkat ke sekolah.
Laron yang aku dapat, aku berikan ke ibu untuk di masak. Biasanya kami memasaknya dengan di goreng memakai telur dan di beri garam sedikit. Dulu aku merasa jijik dengan binatang kecil itu. Tapi setelah mencicipinya hmmm rasanya enak juga, gurih dan renyah.
Kata ayahku, di dalam tubuh laron memiliki sumber protein yang tinggi. Dan tentu saja aman di konsumsi oleh manusia.
Di kota Boyolali, laron sudah biasa dijual sebagai lauk pauk. Biasanya di buat peyek laron. Sekarang sudah jarang sekali yang menjualnya. Padahal rasa peyek laron ini lezat sekali. Mungkin karena laron juga susah untuk di dapatkan.
Pagi itu hujan pertama di bulan November, kami sekeluarga sarapan dengan menu Laron goreng. Lezat dan enak sekali, menikmati makanan yang disediakan oleh alam.
Hujan yang terjadi sekarang ini, sudah berbeda dengan hujan di saat-saat aku kecil. Hujan yang dulu sering kali mendatangkan laron-laron kecil. Hujan yang sekarang ini mendatangkan banjir. Laron pun sudah jarang aku jumpai di saat-saat musim penghujan. Mungkin karena sekarang sudah banyak rumah-rumah yang terbuat dari beton. Jalanan sudah banyak di aspal. Dan sudah jarang ada lapangan di kota-kota. Bahkan pohon-pohon sebagai sumber oksigen pun sudah jarang sekali di tanam di tengah-tengah jalan. Adanya mereka di tebang untuk pelebaran jalan.
Pohon-pohon yang ada di hutan ditebang oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Banyak perbukitan di keruk, untuk perumahan. Banyak gunung di gundulin, untuk dijadikan perkebunan teh, kopi. Di perkotaan banyak di bangun gedung-gedung bertingkat, yang mengurangi daya serap air. Sungguh ironis. Manusia mengeksploitasi alam dengan tidak bertanggung jawab. Dan sekarang akibatnya hujan beberapa jam saja sudah mengakibatkan banjir. Seringkali juga terjadi banjir bandang disertai tanah longsor di pedesaan. Bencana ada di mana-mana. Dan yang sering dibicarakan sekarang ini adalah global warming.
Cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini, juga mencerminkan kondisi negara yang saat ini sedang memanas. Dimana ada konflik diantara lembaga kenegaraan. Seolah-olah para petinggi negara membenarkan argumennya masing-masing. Tidak ada yang mau berusaha untuk saling mendengarkan satu sama lain. Semua saling menuntut, semua saling menuding dan semua saling mengklaim bahwa merekalah yang paling benar. Tidakkah mereka menyadari, dunia ini sedang di uji oleh Yang Maha Esa. Apakah mereka tidak melihat tanda-tanda itu.
Keinginan untuk tetap berkuasa dan menjabat di posisi yang paling tinggi. Seringkali membutakan seseorang, untuk tetap berada di tempat itu. Dengan segala cara di lakukan untuk mempertahankannya. Bahkan tanpa ragu-ragu membuat sebuah skenario untuk menjatuhkan yang lain. Dengan tipu muslihat yang sama sekali tidak pernah di sangka-sangka. Dan membuat orang yang benar harus menanggung rasa malu, rasa sakit dan harus dikucilkan oleh keluarga, teman bahkan masyakarat. Pada akhirnya kebenaran akan terungkap.
Hujan di bulan November, berikan kesejukan buat kami. Juga buat orang-orang yang menjabat di posisi tertinggi. Untuk bisa menyelesaikan kasus-kasus yang ada dengan bijaksana. Dengan arif mau untuk mengakui kesalahan masing-masing.
Indahnya dunia jika semua orang mau untuk berdamai. Seperti damai Natal yang selalu hadir di setiap hati manusia. Tuhan sukacita-Mu selalu hadir untuk kami. Berikan kami kasih dan berkat-Mu untuk dapat kembali berdamai dengan orang-orang yang kami kasihi.
Semarang, 13 November 2009